Indonesia, Sumatera, Travel Story

Air Terjun Lubuk Batang, Pesona Baru Kapur IX

Air Terjun Lubuk BatangAir Terjun Lubuk Batang adalah destinasi saya selanjutnya. Memang beberapa waktu yang lalu saya vakum untuk pergi berjalan menghabiskan waktu santai, dikarenakan sibuknya pekerjaan sehari – hari. Sebelumnya saya mengetahui tempat ini dari Instagram bang @ardiesensei . Jujur waktu itu memang benar – benar terkejut, bahwa di daerah Kapur IX, Pangkalan, Kab. 50 Kota Sumatera Barat ada tempat eksotis di daerah ini. Apalagi untuk ke tempat ini dari Pekanbaru tidak terlalu jauh. Jadi memang sudah direncanakan dari kemarin – kemarin. Dan akhirnya bisa terealisasi dengan waktu yang tiba – tiba.

Air Terjun Lubuk Batang – Sekilas

Tempat ini menambah jumlah wisata air terjun (sarasah) di Sumatera Barat. Sungguh negeri yang sangat menarik dengan keindahan alamnya. Ini terbukti dengan penemuan Air Terjun Lubuk Batang yang berada di Nagari Koto Bangun Muaro Peti Kapur IX, Pangkalan, Koto Baru, Kabupaten 50 Kota, Provinsi Sumatera Barat. dan seperti air terjun yang pernah saya ceritakan sebelum – sebelumnya, untuk mengakses daerah ini cukup melelahkan. Namun bedanya kita bisa melalui rintangan menuju daerah ini menggunakan motor Trail atau motor biasa yang agak tinggi. Tidak disarankan menggunakan motor matic, karena medan yang berat.

Air Terjun ini juga unik, karena diapit dua batu besar, sehingga menampilkan keindahan yang jarang di temui dari air terjun lainnya. Bukan itu saja, di tempat ini juga memiliki hamparan pasir putih seperti di pantai. Jadi jika dipadukan seperti gimana gitu.

Air Terjun Lubuk Batang – Perjalanan

Saya memulai perjalanan menuju lokasi ini dari Pekanbaru. Untuk di ketahui menuju tempat ini dari Pekanbaru memiliki jarak sekitar 140 KM. Sedangkan dari ibukota Sumatera Barat. Padang waktu yang dibutuhkan lebih lama lagi. Harus menempuh jarak lebih kurang 200 KM. Beruntung sekali saya malam sebelum berangkat. Iseng – iseng koar – koar di Line Group Kaskus Regional Riau Raya, ternyata ada 1 orang teman yang mau ikut. Dan ternyata dia jauh – jauh hari juga sudah memantau untuk bisa ke tempat ini. Tapi karena beda kota, dia di Perawang, mau tidak mau subuh dia sudah harus pergi ke Pekanbaru. Ya lebih kurang 45 menit lah, tanpa persiapan yang gimana – gimana, sekitar pukul 07.00 WIB kami memulai perjalanan. Saya menggunakan motor Honda Kharisma X 125, dan dia menggunakan motor Vario seri baru. Awalnya saya sudah memberi tau dan dia juga tau kalau menggunakan matic tidak akan bisa. Namun kami tetap melanjutkan perjalanan.

Untuk menuju tempat ini kami menempuh waktu lebih kurang 4 – 5 jam, itupun kami sempat beristirahat dan makan pengganti sarapan. Jika biasanya setiba di Pangkalan kami belok kiri untuk ke Bukittinggi, kali ini kami lurus di depan Terminal setempat. Perjalanan dengan pemandangan kebuh sawit, karet dan juga gambir yang merupakan mata pencaharian warga setempat. Dari terminal tadi juga, menuju lokasi air terjun membutuhkan waktu hampir 1 jam. Yang jelas kalau nanti kalau udah di ujung ketemu simpang 2 pilih belok kiri ya. Ingat!!. Lumayan juga melelahkan, tapi intinya sekitar pkl 11.00 WIB kami sampai di gerbang masuk lokasi air terjun. Itupun sebelum sampai di gerbang ini, kami beberapa kali bertanya ke warga sekitar untuk sampai di lokasi. Pokoknya mata tetap waspada melihat tulisan Koto Bangun yang artinya tempat yang kita tuju sudah dekat.

Dari gerbang tadi, perjalanan dilanjutkan ke tahap yang mulai ekstrim. Untuk menuju titik dimana air terjun lubuk batang menempuh jarak 4 KM. Nah yang jadi masalah, jika kamu membawa mobil tidak bisa lewat. harus menggunakan motor atau jalan kaki (trekking). Motor yang bisa melalui daerah ini adalah motor trail, atau motor yang tinggi. Menggunakan sepeda gunung juga oke. Atau berjalan kaki lebih kurang 2 Jam. Jika kamu sudah terlanjut bawa mobil, tenang… ada juga ojek penduduk setempat. Tapi harganya Rp. 50.000 PP. Motor yang digunakan juga motor trail.

Kembali ke perjalanan kami tadi, kami memulai dengan gelombang batu. Ya jalan berbatu seakan berjoget sambil duduk di atas motor. Walaupun tidak lama, jalan berubah menjadi mendaki dan mengecil. Jalan ini sendiri dibuat oleh penduduk sekitar, sebagian semen batu sebagian murni tanah bekas buka lahan. Jalan mendaki dan menurun, medannya sendiri cukup berbahaya karena banyaknya akar – akar pohon. Ternyata ini alasannya juga kenapa tidak boleh menggunakan motor matic disini. Selain rendah, tentu saja bisa menyulitkan bagi yang bawa matic. Tapi entah kenapa dengan teman saya yang menggunakan motor matic vario ini, dia tetap saja tancap gas. Saya mengikuti dari belakang. Selama perjalanan terlihat bekas – bekas buka lahan. Ada juga kebakaran hutan, sehingga membuat perjalanan seakan kurang nyaman. Banyak debu, kebetulan memang tidak ada hujan, sehingga menjadi keuntungan tersendiri bagi kami. Tak lama kami dari jauh melihat ada sebuah jembatan gantung. Jembatan ini sendiri adalah akses satu – satunya untuk menuju air terjun lubuk batang ini. Sayang saya tak sempat berfoto selfie di jembatan ini.

Perjalanan terus dilanjutkan, untung sudah makan, jadinya tenaga masih semangat – semangatnya. Jalan naik turun kiri kanan jurang, jembatan kayu juga menjadi rintangan kami selama menuju tempat ini. Selama perjalanan juga, di pohon – pohon ada penunjuk supaya yang datang ke tempat ini tidak tersesat. Hampir setengah jam akhirnya kami sampai ke titik terakhir. Titik dimana kita harus meninggalkan kendaraan kita, dan turun ke bawah untuk melihat langsung tempat ini. Tidak usah khawatir, karena ada pondok penduduk yang jaga tempat ini. Disana juga mereka berjualan minuman apabila nanti kita kehausan. Untuk parkir kita cukup membayar biaya Rp. 5000 saja.

Air Terjun Lubuk Batang – Pesona indah Kapur IX

air-terjun-lubuk-batangKami melanjutkan dengan turun perlahan lahan. Lagi – lagi saya lupa ketika menuju tempat ini. Saya menggunakan sepatu yang memiliki tapak licin, sehingga sangat menyulitkan karena licin. Gara – gara tiba – tiba juga sih berangkatnya. Tapi itu semua terbayarkan sudah, ketika sayup sayup saya mendengar deburan air yang turun. Ya.. kami sudah sampai di air terjun lubuk batang. Dari jauh sudah keliatan keindahan air terjun ini. dan karena kami perginya dari pagi, tempat ini masih sunyi, hanya beberapa orang saja selain kami yang sudah disini. Tapi sedikit terkejut ketika melihat dinding dinding sekitar sudah di beri warning jangan mencoret. ya itulah, masih banyak oknum wisatawan yang tidak bisa menjaga alam dan menghargainya. Banyak tulisan – tulisan di dinding tebing itu, dan jelas pula nama – nama mereka. Apa mereka tidak malu ?

Tapi ya sudahlah, yang penting saya tidak seperti itu. Saya lanjutkan dengan segera mengambil beberapa pose keindahan air terjun ini. Memang luar biasa air terjun yang turun dari 2 batu/ tebing. Pasir yang diceritakan sebelumnya memang ada. Pasir putih seperti pasir pantai. Banyak yang terlupa untuk menuju tempat ini, salah satunya adalah memory card dari DSLR yang saya bawa. Sempat pusing juga dan pasrah harus gunain kamera dari ponsel aja. Namun ternyata ada seorang pengunjung juga yang tau kegelisahan saya, maka dia pun menawarkan untuk meminjamkan adapter, dan bisa di gunain dengan microSD ponsel kami. Alhamdulillah jadinya bisa fotoooooo. Setelah beberapa kali foto, kami pun beristirahat sejenak di pasir itu. Sayangnya waktu itu sudah tidak hujan selama 3 bulan belakangan. Jadinya air yang jatuh tidak sebanyak foto – foto yang beredar sebelumnya.

Yang jelas, buat teman – teman yang kesini di mohon sekali untuk tidak mencoret coret dinding tebing disini. Hentikanlah tindakan vandalisme, dan jangan buang sampah sembarangan. kalau memang tidak ada tempat sampah, silakan bawa kembali. Hargai alam dimana kamu hidup. Jujur saya sangat kecewa dengan coretan tersebut. Tapi mau gimana, kita mulai dari diri sendiri dulu.

incoming search

air terjun lubuk batangakses dari bukittinggi ke air terjun lubuk batang pangkalanlokasi air terjun lubuk batang pangkalan

Yuk tinggalkan jejakmu dan komentar ya