Indonesia, Sumatera, Travel Story

Gunung Kerinci – Gunung Tertinggi Di Sumatera

Gunung Kerinci  – Adalah gunung kedua yang kali ini saya daki setelah Marapi di Sumatera Barat pada beberapa bulan yang lalu. Lokasinya terletak di Provinsi Jambi tepatnya di daerah desa Kersik Tuo di Kab. Kerinci. Lokasi keren ini termasuk gunung tipe A aktif. Tempat ini adalah atapnya Sumatera dan tempat kedua tertinggi di Indonesia setelah gunung di Papua. Kali ini saya kembali berangkat dengan teman – teman dari United Indonesia Chapter Pekanbaru. Sempat terlintas di pikiran apakah saya bisa mendaki tempat indah ini. Alhamdulillah semua terlaksana dengan baik. Walaupun dengan julukan Tim Hore.

Gunung Kerinci – Sekilas

Lokasi keren ini sering di sebut juga Gunung Gadang, Berapi Kurinci, Kerinchi, Korinci, atau Puncak Indrapura memiliki ketinggian 3.805 Mdpl, dan gunung ini merupakan habitat Harimau Sumatra yang di kelilingi hutan Taman Nasional Kerinci Seblat. Di atas puncak Kerinci kita dapat melihat secara langsung pemandangan indah kota Jambi, Padang, dan Bengkulu. Bahkan yang jauh pun terlihat, Samudera Hindia. Tetapi pemandangan tersebuh akan indah bila dilihat ketika hamparan awan tidak ada. Biasanya subuh sampe menjelang siang pemandangan terlihat jelas. Selain itu, Gunung 7 yang ada di seberang tempat kami tegak pun terlihat dengan gagahnya. Di Gunung 7 juga kita dapat melihat Danau tertinggi di Asia Tenggara.

Perjalanan

Perjalanan ke lokasi saya mulai dari Kota domisili saya yaitu Pekanbaru. Dengan menggunakan 2 buah mobil Avanza, kami mulai petualangan kami. Berangkat pada Kamis pagi 14 April 2014, perjalanan menempuh hingga 10 – 11 jam untuk sampai ke desa Kersik Tuo. Pekanbaru terus ke Solok Selatan hingga memasuki Kab. Kerinci. Perjalan ini sendiri di sajikan dengan hamparan kebun teh yang ada di Solok dan juga Taman Nasional Kerinci Seblat yang ada di Kab. Kerinci. Pada malam sekitar pkl 23.00 kami sampai di desa Kersik Tuo, cuaca dingin langsung menyambut kami. Untungnya segala persiapan telah kami lakukan sebelumnya. Kami langsung istirahat sementara di Penginapan atau home stay yang ada disana. Home Stay Paiman lah tempat kami menginap dan menitipkan mobil. Di sini untuk permalamnya di hitung per orang dengan biaya Rp. 40.000. Belum termasuk makan, dimana sekali makan membutuhkan biaya Rp. 10.000. Tempatnya bagus dan nyaman. Di sana juga kami bertemu dengan teman – teman yang akan mendaki esok harinya. Oh iya, saya baru ingat ternyata tujuan saya kesana untuk Summit Attack dan 17 Agustusan disana. Jadi bisa di katakan pendakian kali ini ramai dari yang biasanya.

Pendakian

gunung kerinciPagi telah tiba, saatnya mendaki gunung tertinggi di Sumatera ini. Isi carrier yang saya bawa juga tidak terlalu banyak, Jaket, jas hujan, sleeping bag, head lamp, sarung tangan, tissue basah, kaos kaki, makanan dan tentu saja air. Pendakian ini di mulai dengan foto – foto di sebuah Landmark Desa Kersik Tuo, atau Landmark Pendaki Kerinci, yaitu Tugu Macan. Sebuah tugu dengan patung macan yang menggambarkan daerah Gunung Kerinci yang di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat. Setelah itu kami siap – siap untuk naik. Berikut rute perjalan kami :

– Pondok R10 ( 1611 mdpl ) menuju Pintu Rimba.

R10 adalah pondok pertama tempat kita akan memulai pendakian. Di Tempat ini penjaga balai TNKS mengawasi setiap pengunjung yang akan naik ke Gunung Kerinci. Jarak tempuh sekitar 2 km atau 1 jam perjalanan. Medan jalan berupa perkebunan atau ladang masyarakat dengan kondisi aspal sampai batas hutan yang bisa dilalui dengan motor/ ojek.

 – Pintu Rimba Menuju Pos Bangku Panjang.

Sama halnya dengan Marapi, di Gunung Kerinci juga memiliki pintu rimba. Ini merupakan gerbang awal pendakian dimana ini merupakan batas antara hutan dan ladang. Disini juga tersedia shelter dan juga lokasi air. Untuk jarak tempuh ke Bangku Panjang sekitar 2 km atau 30 menit perjalanan. Lintasannya sendiri masih landai, namun tetap kita harus memakai sepatu dan kaos kaki untuk menghindari pacet karena jalur yang lembab. Untuk saya sendiri yang tim hore, jalur ini masih bisa saya tangani hahaha.

– Pos Bangku Panjang menuju Pos Batu Lumut.

Di pos Bangku Panjang terdapat 2 shelter yang masih bisa digunakan. Disini saya tidak istirahat dan terus mendaki, karena kalau banyak istirahat akan capek. Itu sih kata orang – orang yang sudah paham. Bagi saya sendiri yang tim hore, menuju Batu Lumut merupakan tantangan saya selanjutnya, walaupun medan pendakian masih landai dan jarak tempuhnya sekitar 2 km. Saya sempat beberapa kali ketinggalan teman – teman. Sekitar 45 menit baru saya bisa sampai ke Batu Lumut.

– Pos Batu Lumut – Shelter 1.

10358575_697009357052474_5390115600924320284_nDi pos Batu Lumut saya menyempatkan istirahat. Karena sesuai motto Tim hore, “Buat apa di paksa ? Kita tau batasan kita kan ? “, saya mencoba meluruskan pinggang dan minum. Walaupun tidak ada shelter di pos ini, namun untuk lokasi air disini ada. Walaupun hanya sebatas air endapan hujan, namun ini sangat membantu sekali. Jarak tempuh menuju Shelter 1 sekitar 2 km perjalanan dengan waktu tempuh 1 – 1 1/2 jam harusnya. Namun karena saya tim hore, saya berhasil menempuhan perjalanan rute ini dengan waktu tempuh 2 jam hahaha. Lumayan bukan ?. Kondisi rute jalan setapaknya mulai terjal dengan kemiringan sekitar 60.

– Shelter 1 – Shelter 2.

Finally sampai juga di shelter 1 dengan keadaan cuaca hujan. Ya hujan, yang di takut – takutkan pun akhirnya muncul. Karena derasnya hujan dan kuatnya angin, saya dan teman – teman memutuskan untuk bermalam di shelter ini. Begitu juga dengan teman – teman pendaki dari daerah yang lain. Untuk mengurangi resiko yang ada. Shelter 1 merupakan tempat istirahat yang pas. Namun untuk air rasanya aga susah, apalagi kondisi kami mendaki sangat ramai. Alhasil kami menampung air hujan dengan menggunakan terpal dan juga mencari mata air yang ada di sekitar shelter 1. Bermalam di shelter 1 ternyata cukup nyaman, selain karena banyak pendaki yang ikut berkemah, juga terdengar suara – suara burung di keheningan malam. Namun ya sebentar saja nyamannya… semua itu berubah ketika teman 1 kemah saya tidurnya ngorok !!! padahal sebelumnya dia mengaku tidak tidur sambil mendengkur. Saya sendiri tidur mendengkur dan juga saya sebelumnya sudah minta maaf kepada teman – teman kalau saya speaker. Ternyata… hahaha. Mungkin karena kecapekan. Besok paginya setelah sarapan bersama, saya dan teman – teman melanjutkan perjalanan ke Shelter 2 dimana jarak tempuh menuju pos 2 yaitu 3 km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Tapi ya seperti biasa, saya tim hore, sampai disana lebih dari waktu tempuh biasanya. Medan yang dilalu mulai semakin berat. Masih dengan vegetasi yang rapat, rute pendakiannya berupa tanah liat dan jalur air yang terbuat secara alami. Karena hujan turun tadi malam, makan rute ini menjadi licin berkali-kali lipat. Di rute ini, saya ahrus ekstra hati hati, harus siap untuk memanjat akar pohon dan bebatuan. Bisa di katakan, perjumpaan lutut bertemu dengan jidat terjadi disini. Beberapa kali saya harus berusaha melewati medan pendakian berupa terowongan yang terbentuk dari dahan-dahan pohon, sehingga saya harus membungkuk untuk melaluinya.

– Shelter 2 – Shelter 3.

10616488_697011793718897_8465673940017787681_nSesampainya di shelter 2, saya beristirahat hanya untuk minum saja. Karena medan yang baru saya lalui sebelumnya lumayan menguras tenaga saya. Shelter 2 bisa digunakan untuk tempat berkemah namun tidak cukup luas, sehingga buat yang mendaki harus berebut tenda untuk berkemah. Tetapi karena saya sudah bermalam di shelter 1, saya harus sampai di shelter 3 hari ini. Di shelter ini, terdapat sumber air yang mudah di jangkau. Setelah beberapa menit istirahat saya kembali melanjutkan perjalanan ke Shelter 3. Di lintasan ini sesekali jalan setapaknya terjal sampai kemiringan 45, terkadang saya harus memegang akar pohon untuk menjaga keseimbangan dan supaya tidak terpeleset. Jarak tempuh menuju shelter 3 yaitu 2 km dengan waktu tempuh 2 jam.

– Shelter 3 – Puncak Kerinci.

Finally sampai juga di shelter 3. Disini sangat bagus sekali untuk mendirikan tenda dan bermalam, sebelum besok ke puncak. Dan pada pendakian kali ini, tempat ini di padati oleh para pendaki dari berbagai macam daerah. Ada bule juga ternyata. Dari atas sini kita bisa melihat pemandangan desa Kersik Tuo dan Gunung 7 yang ada di seberang. Wow.. sungguh pemandangan yang bagus ketika tidak ada kabut. Namun sayangnya.. beberapa jam kemudian kabut mulai menyelimuti shlter 3 dengan udahra dinginnya. Lebih dingin dari Gunung Marapi ternyata. Bahkan cerita – cerita teman – teman yang berulang kali naik, mengatakan ini belum seberapa. Bila sampai badai maka akan lebih dingin dan harus hati – hati mendirikan tenda. Dari shelter 3 ini juga kita bisa melihat jalur pendakian ke Puncak, yang kalau di liat dari tempat saya beridir cukup jauh juga. Saya harus istirahat tekad saya, supaya besok subuh bisa naik dengan baik dan cepat. Pagi yang di tunggu pun tiba, sekitar pukul 03.00 dini hari saya dan teman – teman yang lain bersiap siap untuk summit attack. Medan jalan sendiri penuh dengan pasir dan kerikil. Di rute ini juga kemiringan luar biasa, berbeda dengan rute – rute sebelumnya. kaki dan tangan bekerja, merangkak untuk sampai ke atas. Jadi harap waspada dan gunakan head lamp apa bilan naik ke puncak subuh. Dari shelter 3 ini juga terlihat barisan head lamp sampai ke puncak. Sebelum sampai ke Puncak, saya dan teman – teman berhenti terlebih dahulu di Tugu Yudha. Sebuah tugu yang dibuat untuk mengenang seorang pendaki yang bernama Yudha Sentika yang hilang dan jasadnya tidak ditemukan. Setelah istirahat dan berfoto di tugu tersebut, saya terus melanjutkan untuk menaiki puncak. Nampak dari seberang matahari sudah mulai terbit, dan kelihatan gunung 7 serta pemandangan sekitarnya yang luar biasa. Saya mempercepat langkah saya, walaupun bisa di katakan saya terlambat, dimana orang – orang sudah banyak yang sampai di puncak. Bahkan dengan merindingnya bulu kuduk saya, ketika teman – teman yang sudah sampai bernyanyi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Ini memotivasi saya untuk lebih cepat lagi sampai disana.

– Puncak Kerinci ( 3805 mdpl ).

puncak kerinciAkhirnya saya sampai di puncak. Saya seketika langsung terdiam dan merenung. Inikah ciptaan tuhan. Bahkan teman saya langsung melaksanakan sujud syukur karena sudah sampai di atas. Terlihat juga kawah Gunung kerinci yang masih aktif dengan asap balerangnya. Oksigenpun disini seperti menipis atau mungkin karena badan saya yang besar, saya sempat sesak nafas, dan kemudian sesak nafas itu hilang ketika saya duduk. Terlihat teman – teman yang lain mengabadikan moment tak terlupakan ini dengan berfoto bersama. Saya sendiri tidak terlalu suka narsis, cuma ntah kenapa kamera saya macet pada saat itu. Al hasil saya nebeng foto bersama teman – teman. Lumayan ada bukti saya pernah kemari. Ke Puncak Indragiri, Puncak Kerinci. Gunung Tertinggi di Sumatera, nomor dua tertinggi di Indonesia. Alhamdulillah. Setelah berfoto dan istirahat saya dan teman – teman melanjutkan turun ke bawah. Sebaiknya sebelum pukul 10.00 siang kita harus turun dari puncak Gunung Kerinci, karena resiko kabut mulai turun dan membuat kita nantinya kesulitan untuk menemukan jalan turun. Dan yang pasti turun lebih cepat, tetapi tetap harus hati – hati. Hari itu juga saya dan teman – teman langsung turun ke bawah, kembali ke home stay.

Sungguh pengalaman yang luar biasa. Untuk foto foto lainnya bsia liat di facebook saya di sini. Esoknya saya dan teman – teman ke Gunung 7. Tunggu Update nya yaaa

incoming search

biaya pendakian gunung kerinci kalau dari riaugunung kerinci ada dimana

1 thought on “Gunung Kerinci – Gunung Tertinggi Di Sumatera

Yuk tinggalkan jejakmu dan komentar ya