Mendaki Gunung Marapi di Provinsi Sumatera Barat 2891 Mdpl

Pengalaman pertama mendaki saya adalah di Gunung Marapi. Gunung ini terletak di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia, di dekat Bukittinggi dan Padang Panjang. Marapi memiliki ketinggian 2.891 Mdpl. Untuk zona pendakian yang saya lakukan melalui Koto Baru, Tanah Datar. Gunung ini merupakan gunung yang paling aktif di Sumatra. Marapi sudah meletus lebih dari 50 kali sejak akhir abad 18.

Perjalanan saya kali ini bersama dengan teman – teman dari Kaskus Regional Riau Raya dan United Indonesia Pekanbaru menjelajah gunung ini pada 18 – 20 April. Titik pendakian kami adalah Koto Baru dimana di titik kawasan ini juga terkenal dengan tenunannya, Pandai Sikek.

Gunung Marapi
Sebelum mendaki gunung Marapi

Beberapa hal yang sudah saya siapkan, mulai dari logistik, tenda, juga alat – alat pendakian lainnya. Team kami sebanyak 15 orang yang di bagi menjadi 2 team. Tentu saja saya yang belum pernah mendaki gunung sangat antusias di banding teman lainnya, bisa di katakan bukan hanya saya saja, beberapa teman lain pun juga.

Gunung Marapi – Perjalanan pertama

Perjalanan kami dari Koto Baru menuju check point pertama yang biasa di sebut check point Tower. Dikatakan Check Point Tower karena ada sebuah tower telekomunikasi yang sudah tidak aktif lagi. Titik ini juga merupakan posko dan tempat melapor kegiatan pendakian serta di wajibkan untuk membayar 5000 IDR/ orang.

Pesanggrahan aka posko BKSDA

Setelah melapor dan mengajukan nama- nama siapa saja yang mendaki, sekitar pukul 07.00 WIB, kami lalu memulai pendakian menuju pesanggrahan. Jalan menuju tempat ini sudah di beton atau semen, sehingga tidak menyulitkan walaupun jalan sement tersebut tidak sampai di pesanggrahan. Di jalan yang sudah bersemen ini juga saya sudah lelah (akibat jarang olahraga), sempat kepikiran apa saya nyerah saja. Namun saya tetap jalan menuju pesanggrahan. Di tempat yang merupakan pos BKSDA ini juga kami menyempatkan untuk makan atau sarapan terlebih dahulu. Untuk makanan favorit kemana – mana tentu saja mie instan, yang di lengkapi dengan menu masakan lainnya. Sarden dan teri juga sudah kami siapkan sebelumnya menjadi pembuka hidangan sarapan saat itu.

Selfie dulu yaq

Di pesanggrahan juga dikenal sebagai tempat untuk beristirahat atau lokasi pertama berhenti semenjak titik di Koto Baru. Tak heran, yang istirahat di tempat ini bukan kami saja. Banyak juga para pendaki yang baru turun atau yang baru ingin naik beristirahat di tempat ini. Disini juga ada WC, tapi ya waktu itu ga ada air.

Baca Juga  Danau Biru Sawahlunto, Danau Indah

Puas istirahat, saya dan teman – teman kembali melanjutkan perjalanan. Di awali dengan jalan setapak menanjak dan mulai memasuki hutan. Jalan yang di tempuh sedikit memutar, beberapa kali kami berhenti karena ada sebagian teman yang terkejut saat digigit binatang. Iya… binatang itu Pacet. Untungnya saya memakai celana panjang dan kaos kaki panjang, sehingga terhindar dari hal tersebut. Wajar saja hutan yang masih asri, becek, dan tropis.

Kami terus lakukan pendakian, walaupun sedikit mendung. Menuju pos selanjutnya hanya ada 2 – 3 mata air jadi kami harus pandai – pandai mengatur minum. Hutan bambu mengawali pemandangan yang kami lalui, sisanya hanya ada suara suara dari burung – burung di sekitar, hutan belantara yang sangat sunyi. Jalurpun sudah mulai lebih menanjak, harus pandai – pandai dalam mendakian. bantuan akar pohon atau ranting – ranting pun biasa membantu kita dalam proses pendakian.

Yang paling penting adalah apabila kita bertemu dengan pendaki lainnya, hendaklah menyapa mereka dengan sebutan Pak/ Buk walaupun berapapun umurnya. Ini sudah menjadi kebiasaan, dan ini bagus di lakukan, untuk menghindari hal – hal yang dilarang selama pendakian ini. Jadi harus ya gan.

Dalam proses pendakian pertama ini saya beberapa kali istirahat begitu pula teman – teman lainnya yang juga baru melakukan pendakian pertama. Setidaknya ada lebih dari 5 kali saya istirahat untuk sekedar menarik nafas dan minum. Apa yang saya takutkan benar – benar terjadi, tiba – tiba hujan datang yang mebuat saya dan teman – teman lari kocar kacir. Saya dan teman – teman bergegas terus naik ke atas, ini juga menghindari cuaca yang dingin dan juga adanya lebih banyak pacet.

Dengan semangat yang menggebu sambil menghisap gula merah, saya terus melanjutkan pendakian, hingga akhirnya kami sampai di Pintu Angin yang merupakan tempat mata air kami. Tempat atau pos ini juga sebagai tempat perbatasan antara jalur rimba dengan jalur bukit cadas.

Setelah istirahat sebentar, kami terus lanjut naik ke atas untuk menuju tempat dimana nantinya kami akan membangun tenda. Dengan kondisi hujan, perjalanan terasa lebih berat. Sempat kami bertanya berapa lama lagi waktu yang kami butuhkan untuk sampai di zona tenda dengan para pendaki yang turun kebawah. Jawabanya ? “dekat lagi kok”. Tetapi tidak kunjung sampai.

Baca Juga  7 Tempat Wisata Paling Eksotis Di Indonesia.
Istirahat sejenak setelah mendirikan tenda

Akhirnya setelah beberapa waktu, kami sampai di atas sebelum daerah cadas. Tentu saja kami segera mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Dengan semangat 45 akhirnya kami berhasil menemukan dan mendirikan tenda. Wajar, rasa semangat itu dikarenakan rasa lapar perut kami.

Kalau di hitung  – hitung untuk menuju tempat kami mendirikan tenda ada sekitar lebih kurang 4 – 5 jam. Padahal para pendaki sebelumnya bilang deket – deket aja terus.

Lapar, makan sore dulu

Setelah mendirikan tenda, kami lanjut dengan memasak makanan untuk makan siang. Ga siang juga sih, padahal waktu telah menunjukkkan jam 3 sore. Acara – acara demi acara terus kami lakukan, termasuk beradaptasi dengan alam, cuaca dingin, hujan, kekompakan semuanya kami lalui secara baik. Ditenda saya sendiri berisi dengan 6 orang, padahal tenda hanya cukup buat 4 – 5 orang, hahaha, sungguh pengalaman yang keren. Menuju malam kami juga sempat menikmati indahnya sunset yang terlihat dari tempat kami mendirikan tenda. Oh anugrah tuhan luar biasa.

Puncak Merpati

Wefie

Pada subuh esok hari, sekitar pukul 04.00 kami bangun tidur lebih awal. Ini karena kami ingin melihat Sun Rise dari Puncak Merpati. Puncak Merpati sendiri adalah puncak dari Gunung Marapi.

Untuk sampai di Puncak tersebut, perjalanan pendakian dari tempat kami mendirikan tenda sekitar hampir 1 jam. Dengan persiapan secepatnya kami menuju Puncak Merpati, tidak lupa sebelumnya kami sempat memasak untuk sarapan. Makan sedikit mie insant dan minum kopi hangat. Tapi ada yang saya sesalkan, saya lupa membawa celana panjang lebih, alhasil saya mendaki menggunakan celana bola dan sarung. Hahaha… dingin ? ya tentu saja, namun tetap semangat.

Ternyata pendakian kali ini cukup hati – hati, karena jalan menuju kesana yang cadas dan berbatu. Waspada juga terhadap batuan yang kita lewati, bisa – bisa mengenai teman di belakang. Dalam pendakian ini lagi – lagi saya banyak istirahat. Hahahah sesuai faktor Umur dan ukuran badan.

Berfoto bersama di Tugu Abel

Finally.. akhirnya sampai di Tugu Abel. Tugu Abel, Sebuah tugu yang didirikan di lokasi ini. Untuk Mengenang Pengorbanan Abel Tasman yang melakukan penyelamatan luar biasa terhadap salah seorang pendaki wanita sewaktu terjadinya letusan Gunung Marapi. Tapi sayang di tugu ini banyak coretan oleh orang – orang yang tidak bertanggung jawab, kalau ngga di coret pasti bagus.

Baca Juga  5 Kota Wisata Keluarga yang Asik dan Murah Di Indonesia
Wefie again

Puas di tugu ini, kami terus melanjutkan perjalanan, sampai akhirnya tiba di Puncak Merpati Gunung Marapi. Sungguh pemandangan yang luar biasa !!!!! Kota Bukittinggi, Padang Panjang dan Danau Singkarak terlihat dengan jelas. Wonderfull !. Walaupun capek ini tidak sia – sia. Terbayarkan dengan pemandangan indah yang ada disana. Mulailah teman – teman dan saya mengabadikan sekitar.

Menggunakan Sarung di Puncak

 

Gunung Marapi – Taman Edelweis

Setelah puas menikmati pemandangan, nampak dari kejauhan taman edelweis. Taman bunga edelwis yang hanya tumbun di atas Gunung Marapi. Maka kamipun turun untuk menuju taman tersebut. Dari puncak keliatan taman itu dekat, ketika dijalani ternyata cukup jauh, walaupun cuma menurun. Tapi dari sisi lain saya membayangkan dan berpikir, ini berapa lama lagi untuk naik kembali. Akhirnya saya dapat melihat taman bunga edelweis secara langsung. Melihat sekeliling, berfoto dan mengambil beberapa petik saja. Niat awalnya tidak ingin mengambil, karena tumbuhan ini termasuk tumbuhan langka. Tapi saya ambil sedikit, tidak banyak. Well buat yang baca ini jangan marah ya, saya mengerti kok aturannya.

Taman Eldeweis

Di taman ini saya sempat kehausan, dan ternyata persediaan air yang di bawa telah habis. Maka saya dan teman – teman yang haus, berusaha mencari di daerah sekitar. Akhirnya dapat, walaupun sepertinya itu bukan mata air. Tapi keliatan bersih dan tidak bau. Cukup menghilangkan dahaga kami. Selanjutnya kami kembali ke Tugu Abel untuk balik ke tenda. Huhuh sangat capek saat balik mendaki dan menurun.

Akhirnya, karena cuaca yang hujan kembali, dan kondisi tenda yang bocor, saya dan beberapa teman 1 team mengusulkan untuk turun saja sore itu. Karena kalau di paksa pun tetap tidak bisa istirahat dengan baik. Dan akhirnya kami turun 1 team, team 1 lagi tetap di atas karena ada beberapa teman yang cedera. Well, begitulah sedikit cerita mendaki ke Gunung Marapi. Ada yang saya sesalkan, saya tidak membawa kamera DSLR yang saya punya, saya hanya membawa kamera digital saja. Takut kena air hujan dll. Akibatnya saya kehilangan gambar – gambar menarik :((

incoming search

sejarah tugu abel tasmantugu abel tasman

One Reply to “Mendaki Gunung Marapi di Provinsi Sumatera Barat 2891 Mdpl”

  1. […] alam yang besar. Masih banyak potensi – potensi wisata yang belum terjamah. Keindahan Wisata gunung Marapi Singgalangnya, air terjun, danau atau lembah – lembah yang terindah di Indonesia. Sebut saja […]

Berkomentar dan menjalin silaturahmi