Mendaki Gunung Marapi di Provinsi Sumatera Barat 2891 Mdpl

Tentunya pengalaman pertama tak terlupakan saat saya bisa mendaki Gunung Marapi. Pendakian gunung yang terletak di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia dan berada di dekat Bukittinggi dan Padang Panjang ini penuh keseruan buat saya sehingga membuat saya ingin mendaki dan mendaki lagi.

Marapi di Sumatera Barat ini memiliki ketinggian 2.891 Mdpl dan merupakan salah satu gunung aktif yang sering didaki para pecinta alam. Sedangkan untuk zona pendakian ada beberapa lokasi, dan yang saya lakukan melalui Koto Baru, Tanah Datar. Marapi juga sudah meletus lebih dari 50 kali sejak akhir abad 18 Masehi.

Gunung Marapi

Sebelum mendaki

Perjalanan yang saya lakukan kali ini bersama dengan teman-teman dari Kaskus Regional Riau Raya dan United Indonesia Pekanbaru yang dimulai pada 18 – 20 April 2014 lalu.

Beberapa hal yang sudah saya siapkan, mulai dari logistik, tenda, juga alat – alat pendakian lainnya. Team kami sebanyak 15 orang yang di bagi menjadi 2 team. Tentu saja saya yang belum pernah mendaki gunung sangat antusias di banding teman lainnya, bisa di katakan bukan hanya saya saja, beberapa teman lain pun juga sama halnya saat cerita saya mengunjungi Air Terjun Nyarai.

Gunung Marapi – Perjalanan pertama

Perjalanan kami dari Koto Baru menuju check point pertama yang biasa di sebut check point Tower. Dikatakan demikian karena ada sebuah tower telekomunikasi yang sudah tidak aktif lagi di titik ini. Disini juga merupakan posko dan tempat pelaporan kegiatan pendakian serta setiap pendaki diwajibkan untuk membayar iuran 5000 IDR/ orang.

Pesanggrahan aka posko BKSDA

hal yang dilakukan setelah melapor dan mengajukan nama-nama siapa saja yang mendaki adalah melanjutkan perjalanan menuju pesanggrahan. Sekitar pukul 07.00 WIB, kami lalu memulai perjalanan menuju pesanggrahan. Untuk kondisi jalan menuju lokasi ini sudah dibeton atau semen, sehingga tidak menyulitkan walaupun jalan semen tersebut hanya separuhnya saja.

Perjuangan saya menahan napas tentu saja dimulai dari awal perjalanan ini, dimana akibat jarang olahraga saya sudah ngos-ngosan dan malahan sempat kepikiran apa saya nyerah saja. Tetapi saya tetap jalan dengan semangat menuju tujuan awal kami. Lokasi awal ini juga merupakan pos BKSDA yang biasanya dijadikan para pendaki sebagai tempat untuk berisitrahat ketika mulai mendaki atau turun.

Di lokasi ini saya dan teman-teman menyempatkan untuk makan atau sarapan terlebih dahulu agar perjalanan menuju atas lebih fit. Adapun makanan favorit saat itu tentu saja mie instan, yang di lengkapi dengan menu masakan lainnya. Sarden dan teri juga sudah kami siapkan sebelumnya menjadi pembuka hidangan sarapan saat itu.

Selfie dulu yaq

Di tempat ini bukan hanya kami saja yang beristirahat, tetapi ada juga beberapa pendaki lain yang baru turun atau yang baru ingin naik turut beristirahat di tempat ini. Jika kamu ingin buat air juga tak perlu khawatir, karena juga tersedia WC, tapi ya saat itu ga ada air hahahaha.

Puas istirahat, kamipun kembali melanjutkan perjalanan ke atas. Perjalanan diawali dengan jalan setapak menanjak dan mulai memasuki hutan sedikit lebat. Jalan yang di tempuh sedikit memutar, beberapa kali kami berhenti karena ada sebagian teman yang terkejut saat digigit binatang. Iya… binatang itu Pacet. Untungnya saya memakai celana panjang dan kaos kaki panjang, sehingga terhindar dari hal tersebut. Wajar saja hutan yang masih asri, becek, dan tropis.

Kami terus lakukan pendakian, dengan sedikit mendung menuju pos selanjutnya. Selama perjalanan hanya ada 2-3 mata air jadi kami harus pandai-pandai mengatur kebutuhan minum. Perjalanan setelah pos adalah hutan bambu, sisanya hanya ada suara nyanyian dari burung-burung di sekitar hutan belantara yang sangat sunyi. Jalurpun sudah mulai lebih menanjak, harus pandai-pandai dalam mendaki. Memanfaatkan bantuan akar pohon atau ranting-ranting pun biasa membantu kita dalam proses pendakian.

Hal yang paling penting adalah apabila kita bertemu dengan pendaki lainnya, hendaklah menyapa mereka dengan sebutan Pak/ Buk walaupun berapapun umurnya. Ini sudah menjadi kebiasaan, dan ini bagus di lakukan, untuk menghindari hal-hal yang dilarang selama pendakian ini. Jadi alangkah baiknya jika kamu lakukan.

Dalam proses pendakian pertama ini saya beberapa kali istirahat begitu pula teman-teman lainnya yang juga baru melakukan pendakian pertama. Setidaknya ada lebih dari 5 kali saya istirahat untuk sekedar menarik nafas dan minum. Selama perjalanan pun tetap wanti-wanti jika cuaca tiba-tiba berubah, dan nyatanya hal tersebut benar-benar terjadi. Tiba-tiba segerombolan hujan datang dan membuat kami lari kocar kacir. Saya dan teman – teman bergegas terus naik ke atas agar terhindar dari cuaca yang dingin dan lebih banyak pacet yang menempel.

Dengan semangat yang menggebu sambil menghisap gula merah, saya terus melanjutkan pendakian, hingga akhirnya kami sampai di Pintu Angin yang merupakan tempat kami mencari sumber mata air. Tempat atau pos ini juga sebagai tempat perbatasan antara jalur rimba dengan jalur bukit cadas.

Setelah puas istirahat sebentar, kami terus lanjut naik ke atas untuk menuju tempat dimana nantinya kami akan membangun tenda. Dengan kondisi hujan, perjalanan terasa lebih berat, karena pakaian yang digunakan juga basah. Sempat juga kami bertanya dengan para pendaki yang turun berapa lama lagi waktu yang kami butuhkan untuk sampai di zona tenda. Jawabannya ? “dekat lagi kok”. Tetapi pendakian tidak kunjung sampai.

Istirahat sejenak setelah mendirikan tenda

Akhirnya setelah melakukan pendakian beberapa waktu, kami sampai di atas sebelum daerah cadas. Hal pertama yang kami lakukan tentu saja segera mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Setelah cari sana sini, dengan semangat 45 akhirnya kami berhasil menemukan dan lalu mendirikan tenda. Wajar, rasa semangat itu dikarenakan rasa lapar perut kami.

Kalau di hitung-hitung untuk menuju tempat kami mendirikan tenda ada sekitar lebih kurang 4 – 5 jam. Padahal para pendaki sebelumnya bilang deket – deket aja terus.

Lapar, makan sore dulu

Setelah mendirikan tenda, kami lanjut dengan memasak makanan untuk makan siang. Ga siang juga sih, bisa dikatakan menuju sore hari. Sambil makan kamu juga sempatkan acara kebersamaan termasuk beradaptasi dengan alam, cuaca dingin, dan hujan sehingga kekompakan semuanya kami lalui secara baik.

Di dalam tenda saya sendiri berisi oleh 6 orang, padahal tenda yang kami dirikan tersebut hanya cukup untuk 4-5 orang saja, tapi mau bagaimana. Tentunya ini menjadikan pengalaman tersendiri yang tak terlupakan. Saat menuju malampun kami juga sempat menikmati indahnya sunset yang terlihat dari tempat kami mendirikan tenda. Oh anugrah tuhan luar biasa.

Puncak Merpati

Wefie

Setelah pada lama hari kami cuma banyak istirahat ditemani hujan terus menerus, pada subuh esok hari sekitar pukul 04.00 WIB kami bangun tidur lebih awal. Perjalanan subuh ini menuju puncak dan agar kami dapat melihat sunrise dari Puncak Merpati. Puncak ini sendiri merupakan nam puncak dari Gunung Marapi Sumatera Barat.

Untuk bisa sampai di Puncak tersebut, perjalanan pendakian dari tempat kami mendirikan tenda sekitar hampir 1 jam. Dengan persiapan secepatnya kami menuju atas dan tidak lupa sebelumnya kami sempat memasak untuk sarapan, lalu makan sedikit mie insan dan minum kopi hangat.

Jalur pendakian kali ini cukup hati – hati, karena jalan menuju kesana yang cadas dan berbatu. Selain itu juga perlukan kewaspadaan terhadap batuan yang kita lewati, bisa – bisa mengenai teman di belakang. Perjalanan ini juga saya lalui dengan ngos-ngosan, dan membuat saya banyak istirahat.

Berfoto bersama di Tugu Abel

Jalan terus hingga akhirnya saya sampai dan menginjakkan kaki di Tugu Abel. Tugu ini merupakan tugu yang didirikan untuk mengenang pengorbanan Abel Tasman seorang pendaki yang melakukan penyelamatan luar biasa terhadap salah seorang pendaki wanita sewaktu terjadinya letusan Gunung Marapi. Walaupun begitu, sayang sekali di tugu ini banyak coretan atau tindakan vandalism oleh orang–orang yang tidak bertanggung jawab.

Wefie again

Setelah beristirahat sejenak di tugu ini, kami terus melanjutkan perjalanan dan melewati sebentang lapangan pasir luas dan terus mendaki hingga sampai akhirnya tiba di Puncak Merpati. Dari atas puncak terlihat pemandangan yang luar biasa. Bisa melihat secara langsung dari ketinggian kota Bukittinggi, Padang Panjang dan Danau Singkarak yang terlihat dengan jelas. Perjalanan dan pendakian ini terbalaskan. Walaupun capek, ini tidak sia – sia dan terbayarkan dengan pemandangan indah yang ada disana.

Menggunakan Sarung di Puncak

 

Taman Edelweis

Selain terkenal dengan pemandangannya, gunung ini juga terkenal dengan taman Edelweisnya. maka oleh karena itu, setelah puas menikmati pemandangan dan mengabadikan kegiatan kami di puncak kami lalu melanjutkan pencarian taman edelweis. Dari puncak juga terlihat kejauhan taman edelweis. Maka kamipun dengan segera turun untuk menuju taman tersebut. Untuk turun tak perlu waktu lama, berbeda dengan sebaliknya. Sungguh takjub tentunya dapat melihat langsung taman bunga edelweis. Yang perlu diingat kita tidak perlu memetiknya, kalaupun mau cukup ambil sedikit saja.

Saya lalu melihat sekeliling, berfoto dan mengambil beberapa petik saja. Walaupun niat awalnya tidak ingin mengambil, karena tumbuhan ini termasuk tumbuhan langka. Tapi saya ambil sedikit, tidak banyak. Well buat yang baca ini jangan marah ya, saya mengerti kok aturannya.

Taman Eldeweis

Selain itu yang perlu diketahui, pada area ini tidak ada sumber mata air, sehingga pada saat itu sempat membuat saya kehausan karena persediaan air yang di bawa telah habis. Setelah puas, tak lama gerombolah awan berkabut datang menghampiri dan membuat kami segera mendaki dan kembali ke tenda.

Setelah sampai di tenda dan ditemani cuaca yang hujan kembali plus kondisi tenda yang bocor, saya dan beberapa teman 1 team mengusulkan untuk turun saja sore itu. Karena kalau di paksa pun tetap tidak bisa istirahat dengan baik. Pada akhirnya kami turun 1 tim pada satu itu, dan team 1 lagi tetap di atas karena ada beberapa teman yang cedera.

Alhamdulillah sungguh pengalaman yang tak bakal terlupa saat mendaki ke Gunung Marapi. Ada yang saya sesalkan, saya tidak membawa kamera DSLR yang saya punya, saya hanya membawa kamera digital saja. Takut kena air hujan dll. Akibatnya saya kehilangan gambar – gambar menarik :((

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *