Sebagai seorang travel blogger Indonesia, musik tentunya tidak pernah ketinggalan disetiap perjalanan yang dilakukan. Tak terkecuali saya yang sampai detik ini masih memiliki kesukaan mendengarkan lagu ketika berpetualang. Walaupun tak semua musik bisa menemani saya, dan diantara itu semua musik atau lagu jazz tidak termasuk hitungan.

Musik jazz menurut saya pribadi jelas sangat berat, rumit dan terkadang membingungkan. Dari kecil melihat musik jenis ini diputar di televisi tidak pernah menggugah keinginan saya lebih jauh. Bahkan setiap ada lagu atau musik jenis ini saya langsung skip saja.

Dari informasi Wikipedia, jazz merupakan jenis aliran musik yang ada pada awal abad ke 20 dengan sumber dari musik Afrika dan Eropa, yang berasal dari negara Amerika Serikat. Dari beberapa arti lain semisal Concise Oxford English Dictionary Revised Edition 2006, musik ini merupakan sebuah jenis musik yang berasal dari orang Amerika yang memiliki kulit hitam dengan ciri yang menonjolkan improvisasi, sinkopasi, ritem, yang mana juga diiringi dengan penggunaan alat instrumen khusus. Biasanya jazz lebih sering menggunakan alat musik seperti gitar, trombon, trompet, piano dan saksofon.

Di Indonesia musik jazz selalu mendapat tempat. Ini menjadi bukti bahwa tidak sedikit orang yang menggemari, menyukai dan menjadi penikmat jazz. Lantunan alat musik yang merdu dengan denyut dan dentuman musik yang mengalir membuat telinga para penyuka musik ini seakan melayang. Banyak juga acara jazz bertaraf nasional dan Internasional yang selalu ditunggu dan diselenggarakan tiap tahunnya. Sebut saja Jakarta International Java Jazz Festival, Prambanan Jazz Festival, Jazz Gunung, Ramadhan Jazz Festival dan berbagai event lainnya dengan bintang tamu kelas dunia.

Acara ini ternyata juga sudah sampai di kota tempat saya tinggal di kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Dan selama ini bahkan saya tidak pernah tau, mungkin juga karena memang saya tidak minat, sibuk bekerja atau lebih sering pergi liburan ke luar kota seperti saat berpetualang di Penang pada April 2019 lalu. Melalui event Bono Jazz Festival, saya mencoba menghadiri dan melihat secara langsung hingga akhirnya mengubah persepsi saya tentang musik ini. Memang nyata event ini telah berlangsung beberapa tahun belakangan, dan saya tidak tau itu.

Festival Musik Jazz Ramaikan Event Musik Pekanbaru

Event musik ini merupakan kegiatan musik yang beberapa tahun belakangan menjadi acara musik tahunan di Provinsi Riau yang untuk pertama kali dilaksanakan pada tahun 2015 lalu. Bono Jazz Festival (BJF) sendiri biasanya dilaksanakan sebagai bentuk perpaduan acara yang menyatukan kekayaan alam dan potensi wisata Bono dengan musik Jazz serta para praktisi atau pelaku ekonomi kreatif yang dipadukan dengan kelokalan musik melayu. Bisa dikatakan pula acara ini dilaksakan sebagai pembuka sebelum event internasional Ombak Bono di Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau yang memang sudah masuk dalam Top 100 Celendar of Events pariwisata nasional. BJF sendiri pada tiap tahunnya selalu hadir dengan konsep yang berbeda.

Mengubah Persepsi Musik di Event Bono Jazz Festival 2019

Press Conference di Mal SKA Pekanbaru

Pada tahun 2019 ini, Bono Jazz Community kembali menampilkan Festival Musik Jazz terbesar di Riau, Bono Jazz Festival 2019. Sama seperti tahun sebelumnya, BJF kembali bekerja sama dan berkolaborasi dengan Mal SKA sebagai salah satu pusat perbelanjaan modern yang ada di kota Pekanbaru.

Dari acara pembukaan yang saya hadiri, event ini juga bersempena dengan hari jadi Mal SKA ke 14. Konsep kolaborasi ini menghasilkan tema “Karnival” yang diselenggarakan pada 23 – 27 Oktober kemarin. Uniknya rangkaian acara jazz terbesar di provinsi ini dilaksanakan di indoor dan outdoor Mal SKA.

penampilan musisi bono jazz festival 2019

Penampilan Dgils, Bay Experience Project dan Blues Malam

Karena tertarik pula akhirnya saya pada tanggal – tanggal tersebut menyempatkan untuk hadir dan mencoba menggali lebih dalam tentang musik ini. Berbagai penampilan dan kolaborasi musisi nasional dan internasional lintas genre membuat saya penasaran. Perpaduan musik jazz, melayu, pop hingga electro setidaknya membuat saya ingin mendengarkan bagaimana jenis musik yang dihasilkan.

bono jazz festival 2019

Penampilan musisi Korea, Kwon Sub Lee

Penampilan musisi yang memiliki nama terkenal seperti Rieka Roeslan, Idang Rasjidi & Syndicate, Andrigo dan Dr. Dree yang sudah sering terdengar namanya di belantika musik tanah air cukup menjanjikan. Ada pula penampilan dari musisi negeri jiran Malaysia seperti Amar Reza Azalan, Bob Skunjas, Jack LIm, Kirana Kay, Baby Shima dan Jart Hassan. Ada juga dari negeri ginseng Korea selatan, Kwon Sub Lee. Pastinya ada musisi, band baik lokal, nasional dan Internasional yang mengisi panggung acara ini. Total ada 120 musisi yang unjuk gigi didalam festival jazz ini dengan menampilkan karya melayu dengan paduan jazz, dimulai pukul 2 siang hingga 10 malam tiap harinya.

Mengubah Persepsi Musik di Event Bono Jazz Festival 2019

Walaupun tidak tiap hari selama acara berlangsung, setidaknya saya mulai memahami sedikit demi sedikit bagaimana musik ini bekerja. Bagaimana ritme, harmoni dan melodi yang berirama menciptakan suatu musik yang rasanya terdengar aneh sebelumnya. Dengan tambahan musik swing dan improvisasi para musisi membuat saya menyimpulkan bahwa musik ini adalah tentang improvisasi. Adanya perpaduan instrumen alat musik seperti terompet, piano, gitar, bass, saksofon, dan drum, membuat musik ini enak didengar. Bahkan saya ga menyangka para musisi bisa membuat musik seperti ini.

Penampilan Idang Rasjidi & Syndicate di Bono Jaz Festival 2019

Penampilan Idang Rasjidi & Syndicate

Tak terasa dari musisi yang saya tonton secara langsung, menampilkan ritme atau bahkan dengan tempo yang tinggi atau sinkopasi yang membuat musisi tersebut menghasilkan nada yang membuat saya gatal untuk menggerekkan kaki dan sekedar menari. Suara dan irama mendayu yang mungkin selama ini tidak pernah saya dengar dan nyatanya mampu membuat telinga dan tubuh saya menikmatinya.

Tentu saja persepsi saya selama ini jika musik jazz sangat berat dan membingungkan itu hilang seketika. Saya bisa menikmati musik ini, dan pastinya musik – musik ini bukan hanya untuk orang tua (banyak yang beranggapan seperti itu). Sambil menikmati musik, dalam acara ini juga ada berbagai penggiat UMKM yang juga turut hadir dengan menampilkan berbagai produk lokal seperti adanya stand kuliner, pakaian dan produk lainnya yang menemani para penikmat musik tak terkecuali saya.

Penampilan Rieka Roeslan, Idang Rasjidi & Syndicate di Bono Jazz Festival 2019

Penampilan Rieka Roeslan, Idang Rasjidi & Syndicate

Musik musik dengan beat dan ritme tempo tinggi ini pada akhirnya menemani saya hingga acara puncaknya pada malam 27 Oktober lalu. Dengan menampilkan Idang Rasjidi & Syndicate serta Rieka Roeslan. Khusus untuk Rieka, tentu namanya sangat familier buat saya, karena pada masanya waktu tergabung band The Groove 1997 silam, lagu – lagunya cukup hits dan selalu membuat saya ingat. Lagu lagu itu pula yang kembali ditampilkan pada Bono Jazz Festival 2019 ini di kolaborasikan dengan musisi Idang Rasjidi & Syndicate. Hasilnya ? Saya ikut bernyanyi..  Dahulu… semua indah. Dahulu… terasa bergelora. Dahulu… hanya ada aku. Dahulu… ku menjadi bunga cintamu.

Penampilan Rieka Roeslan yang memukau cantik dan anggun membuat saya hanyut dalam kenangan masa – masa tahun 90-an hingga 2000-an. Belum lagi penampilan mas Idang Rasjidi dengan musisi muda anggotanya mampu membius saya. Ritme dan beat-nya membuat saya bergoyang dan bertepuk tangan.

Yang pasti, musik jazz kini bisa menjadi bagian dan menemani saya dalam berpetualang ataupun liburan. Karena musik ini memang beda dan memberikan instumen yang bisa membuat pikiran sedikit lebih santai. Tentunya pengalaman di Bono Jaza Festival 2019 ini begitu berharga. Bagaimana dengan kalian ? punya pengalaman dengan Jazz ?